Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

26 Jun 2014

ICED CAPPUCINO

Iced cappucino? Why not?

Biarpun Anda penggemar hot cappucino, sesekali menikmati yang iced juga silahken. Gantilah suasana sesekali. Jika ingin lebih puas, buatlah minuman Anda sendiri, santai saja cukup 5 menitan :)
Nah apa aja alat & bahan yang kita perlukan? Ini dia:
1. Mesin espresso, atau bisa pakai kopi saring,
2. Milk frother, atau bisa juga pakai french press,
3. Susu cair,
4. Gula cair,
5. Es batu,
6. Gelas cantik ukuran 200ml atau lebih.

Cara buatnya cukup mudah (walau cuci alatnya nggak..):
# tuang 30ml gula cair ke gelas cantik,
# tambah es batu secukupnya,
# kucurkan 30ml espresso,
# masukkan 100ml susu cair ke french press, kocok naik turun sampai terbentuk busa halus,
# tuang busa susu ke gelas sampai full, tambah es jika perlu,
# tambah hiasan topping untuk mempercantik.



NB: french press biasa digunakan untuk kopi, jadi perlakukan dengan agak halus saat foaming susu.

8 Mar 2013

Coffee & Cake

Pasangan yang serasi, kopi yang agak pahit dan sepotong kue manis.

Kopi ini masih yang dari kedai Tak Kie, cuma cara seduhnya agak beda sedikit. Diberitahu oleh oom Anta, yaitu kopi diseduh dengan sedikit air lalu aduk. Kemudian, tambah gula dan seduh lagi sampai cukup segelas. Hasilnya mirip-mirip dengan metode oom Tak Kie. Boleh kamu coba juga cara seduhnya oom Anta ini. Share jika temui hasil yang agak beda dari metode biasa.

Jaya Permana
Sambil sarapan

7 Mar 2013

Kopi Tak Kie

   Menikmati sore hari ditemani segelas kopi hitam dengan sedikit gula. Kebetulan saya bisa membebaskan diri dari tugas sejak jam 5 tadi. Betapa enaknya kalau setiap hari seperti ini! Santai, ngenet, sambil ngopi.
   Sore ini belum sempat giling biji kopi single origin, jadi saya pilih kopi yang dibeli di kedai kopi Tak Kie. Kata pemilik kedai, kopi ini hasil blend (campuran) beberapa jenis kopi yang bagus kualitasnya. Baunya harum, tapi tidak bisa dikenali seperti pada kopi-kopi single origin yang saya beli di Maharaja. Karena resep campurannya tentu saja nggak diberitahu si oom Tak Kie. Rahasia perusahaan..
   Kopi ini dibeli dalam bentuk bubuk yang cukup halus. Dibelikan oleh istri saya lho (padahal gak ada yang tanya). Saat beli, ternyata si oom berbaik hati ngajari cara seduh biar rasanya maksimal. Cara seduhnya tubruk, seperti berikut:

  1. Masukkan 3 sendok teh kopi kedalam gelas. Bisa campur dengan gula sesuai selera.
  2. Siram dengan air mendidih secukupnya. Usahakan bukan dari dispenser, karena biasanya kurang hot.
  3. Aduk satu arah dengan lembut. Lalu tutup rapat gelasnya. Biarkan sekitar 1 menit.
  4. Aduk kembali dengan perlahan. Tutup lagi. Biarkan sekitar 10 menit.
  5. Sajikan. Jika tidak suka dengan ampasnya, silahkan saring dengan saringan kain atau saringan yang agak rapat.
   Ketika kopi diaduk, muncul buih crema yang bagus dan mengkilap. Saat akan diaduk yang kedua kali, terlihat ampasnya mengambang dan berbuih. Baunya lebih harum dari pertama diseduh. Lalu gimana rasanya? Pahit dengan sedikit asam, agak kompleks dan meninggalkan rasa pahit yang cukup lama di lidah. Bahasa kerennya long after taste. Permukaan lidah serasa menebal. Gak heran kalau kopi ini memorable, melekat di ingatan. Wong di lidah aja rasanya melekat lamaaa.
   Bagaimana kalau ditambah es? Saya coba juga campur dengan es batu, dan dikocok menggunakan shaker. Ternyata foam kopinya cukup banyak dan tahan lama. Setidaknya sekitar 10 menit foamnya masih ada, kalau nggak habis diminum.. Asalkan takaran gulanya pas, rasanya tetap enak lho! Jadi secara keseluruhan menurut lidah saya, kopi Tak Kie ini mantap baik panas maupun dingin.
   Buat saya kopi ini bisa jadi patokan untuk mencari campuran kopi yang pas. Juga buat kamu yang ingin buka kedai kopi, sepertinya mesti coba yang satu ini. Makin kita ketemu kopi enak, lidah kita makin tinggi seleranya. Tentu masih ada lagi yang lebih enak dari kopi Tak kie ini. Semoga kopi racikan saya nanti adalah salah satunya.


Jaya Permana
Tangerang 15710

6 Mar 2013

Kopi dan Cara Seduh

A good brewing technique wouldn't help a poor quality coffee.

Seduh Kopi
    Menyeduh kopi yang enak itu ternyata nggak selalu mudah. Kadang kopi yang bagus pun setelah diseduh malah menghasilkan kopi yang payah, nggak enak. Ini kenyataan, karena memang banyak faktor yang ngaruh. Tapi tenang saja, karena menyeduh kopi itu adalah science, bisa dipelajari siapa saja. Ada ilmunya. Banyak situs yang membahas soal seduh menyeduh kopi. Contohnya situs ineedcoffee, yang memaparkan empat prinsip penyeduhan, yaitu: 1) air yang bersih, 2) suhu air yang cukup, 3) lamanya waktu seduh, dan 4) kehalusan dan banyaknya kopi. Coba, gimana rasanya kalau airnya beraroma logam. Masih mau minum? Atau kalau airnya kurang panas, rasanya terlalu pahit, atau sebaliknya terlalu encer. Nggak enak ya?
    Saya sendiri sedang bereksperimen seduh menyeduh kopi yang enak. Bukan hanya karena senang ngopi, tapi juga karena berencana membuka warung kopi. Rasa nggak konsisten bukan masalah jika untuk dinikmati sendiri, lain jika untuk dijual. Mesti enak, konsisten dan bahkan melekat di ingatan pelanggan. Bahkan buat orang yang benar-benar serius mau terjun di dunia perkopian, ada sekolahnya. Coba search "kursus barista" di google, ada beberapa yang muncul seperti Esperto Barista Course, Morning Glory, dan lainnya. Biayanya? Tidak murah (untuk yang bokek seperti saya :D). Kok bisa ya ada sekolah menyeduh kopi? Menurut hemat saya, karena makin banyak orang yang ingin menyeduh kopinya sendiri. "My coffee my way" ujar pak Toni Cikopi. Memang untuk yang senang eksperimen, sedikit ribet ga masalah, asal hasilnya nikmat. Apalagi kalau ternyata ramuan kita disuka orang lain, widiih bikin bangga.
   Tapi tentu untuk bikin secangkir kopi nikmat, diperlukan kopi yang bagus. Kita nggak bisa paksa kopi yang bau apek misalnya, jadi secangkir kopi enak. Pun tiap orang punya seleranya sendiri, kalau ketemu kopi yang dibawah standarnya pasti manyun deh. Saya pernah coba beli biji kopi pasar yang harganya 60ribu sekilo, berharap minimal bakal seenak kopi di kedai lokal macam Bengsol. Agak kepedean memang. Tapi namanya juga coba-coba, gagal dulu kan wajar. Ditaksir kopinya bakal harum dan pahitnya pas, ternyata beraroma gosong dan pahitnya tidak enak. Yah, disimpulkan kopi pasar ini nggak sesuai dengan selera saya. Lalu saya coba kopi bubuk bermerk Excels*, beli di minimarket seharga 18ribuan untuk 200gram. Wanginya redup sodara-sodara. Rasanya? Yah.. Begitulah.. Minim. Kita perlu perhatikan tanggal kadaluwarsanya, makin lama makin bagus. Karena menurut beberapa blog, kopi paling bagus dinikmati segera setelah digiling. Beruntung sekarang banyak produsen kopi menggunakan kemasan one way valve, sehingga kita bisa cium-cium dulu aroma kopinya. Cium dulu, baru beli.
   Masih belum puas dengan kualitas kopi yang kemarin-kemarin dibeli, saya akhirnya menyambangi Maharaja Coffee di jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta. Hasil baca-baca blog kopi. Wuah, di tempat ini banyak jenis kopi single origin dan blend. Tinggal pilih mau kemasan berapa gram. Juga ada harga khusus untuk kedai kopi. Saya coba beli eceran dulu ah, kemasan 200gram. Variatif, tergantung jenisnya robusta atau arabica. Mana lebih enak? Gak tahu ya. Saya beli 3 jenis dulu. Arabika Aceh Gayo, Arabika Toraja, dan Arabika Bali Kintamani. Dikasi juga bonus robusta Rakata 100gram tuh. Kopi mana yang paling enak? Wah, sulit juga memutuskan. Karena selain masalah selera, sayapun belum coba dan kulik semuanya. Ditulisan berikutnya saya akan beberkan pengalaman menyeduh kopi-kopi tersebut.


Lagi-lagi lewat tengah malam bung..
Selamat tidur

3 Mar 2013

Kedai Kopi


   Sudah hampir pukul 1 pagi, dan saya masih belum juga berniat tidur. Setidaknya sebelum memposkan sesuatu di blog ini. Sayang sudah nganggur lama sekali. Saya senang membaca blog orang lain, tapi kali ini mungkin saya juga perlu menulis sesuatu.
   Beberapa minggu ini, saya sedang "kuliti" blog www.cikopi.com. Menarik sekali bahasannya, kopi. Kebetulan memang saya dan istri senang ngopi. Awalnya coba-coba semacam Sta*buck dan BengSo*. Tapi rasa-rasanya dunia perkopian kok makin happening. Muncul berbagai macam warung kopi domestik semacam Kopi Oey, kepunyaan pak Bondan maknyus. Ditambah lagi pak Toni cikopi seperti meramalkan bahwa kedai-kedai lokal yang menjual kopi asli Indonesia akan semakin disambut.
   Berangkat dari membaca blog cikopi dan browsing-browsing itulah, saya seperti kesetrum. Timbul semangat untuk terjun ke dalam dunia hitam perkopian. Saya kepingin buka kedai kopi. Minimal seperti kedainya pak Bondan. Walaupun tidak terlalu besar tempatnya, tapi sangat menarik. Disamping harga menu-menunya terbilang cukup terjangkau, walau di dompet cuma ada sisa uang gaji bulan kemarin hehehe.
   Saya kemudian browsing mengenai "kopitiam", dan merasa agak kuciwa, karena sedikit sekali informasi yang saya cari. Tentang bagaimana memulai kedai kopi tradisional tersebut. Apa yang perlu disiapkan, berapa budget yang pantas saya siapkan, dan juga peralatan apa yang kira-kira akan mendongkrak penjualan nantinya. Nah, ada satu situs yang lumayan memberi gambaran untuk membuka kedai kopi, sarangkopi.com. Situs ini memberi arahan seperti: mau konsep kedai seperti apa, apa saja yang perlu disiapkan, dan bagaimana mendapatkan alat dan bahan-bahannya.
    Melalui tulisan ini saya mencoba berbagi informasi mengenai bagaimana memulai bisnis kedai kopi tradisional dengan cara seduh manual dan dengan bahan-bahan lokal. Semoga dalam waktu dekat akan ada ilham baru untuk menulis edisi lanjutan blog ini.

Mari tidur, sudah pagi.


Jaya Permana
Tangerang 15710