6 Mar 2013

Kopi dan Cara Seduh

A good brewing technique wouldn't help a poor quality coffee.

Seduh Kopi
    Menyeduh kopi yang enak itu ternyata nggak selalu mudah. Kadang kopi yang bagus pun setelah diseduh malah menghasilkan kopi yang payah, nggak enak. Ini kenyataan, karena memang banyak faktor yang ngaruh. Tapi tenang saja, karena menyeduh kopi itu adalah science, bisa dipelajari siapa saja. Ada ilmunya. Banyak situs yang membahas soal seduh menyeduh kopi. Contohnya situs ineedcoffee, yang memaparkan empat prinsip penyeduhan, yaitu: 1) air yang bersih, 2) suhu air yang cukup, 3) lamanya waktu seduh, dan 4) kehalusan dan banyaknya kopi. Coba, gimana rasanya kalau airnya beraroma logam. Masih mau minum? Atau kalau airnya kurang panas, rasanya terlalu pahit, atau sebaliknya terlalu encer. Nggak enak ya?
    Saya sendiri sedang bereksperimen seduh menyeduh kopi yang enak. Bukan hanya karena senang ngopi, tapi juga karena berencana membuka warung kopi. Rasa nggak konsisten bukan masalah jika untuk dinikmati sendiri, lain jika untuk dijual. Mesti enak, konsisten dan bahkan melekat di ingatan pelanggan. Bahkan buat orang yang benar-benar serius mau terjun di dunia perkopian, ada sekolahnya. Coba search "kursus barista" di google, ada beberapa yang muncul seperti Esperto Barista Course, Morning Glory, dan lainnya. Biayanya? Tidak murah (untuk yang bokek seperti saya :D). Kok bisa ya ada sekolah menyeduh kopi? Menurut hemat saya, karena makin banyak orang yang ingin menyeduh kopinya sendiri. "My coffee my way" ujar pak Toni Cikopi. Memang untuk yang senang eksperimen, sedikit ribet ga masalah, asal hasilnya nikmat. Apalagi kalau ternyata ramuan kita disuka orang lain, widiih bikin bangga.
   Tapi tentu untuk bikin secangkir kopi nikmat, diperlukan kopi yang bagus. Kita nggak bisa paksa kopi yang bau apek misalnya, jadi secangkir kopi enak. Pun tiap orang punya seleranya sendiri, kalau ketemu kopi yang dibawah standarnya pasti manyun deh. Saya pernah coba beli biji kopi pasar yang harganya 60ribu sekilo, berharap minimal bakal seenak kopi di kedai lokal macam Bengsol. Agak kepedean memang. Tapi namanya juga coba-coba, gagal dulu kan wajar. Ditaksir kopinya bakal harum dan pahitnya pas, ternyata beraroma gosong dan pahitnya tidak enak. Yah, disimpulkan kopi pasar ini nggak sesuai dengan selera saya. Lalu saya coba kopi bubuk bermerk Excels*, beli di minimarket seharga 18ribuan untuk 200gram. Wanginya redup sodara-sodara. Rasanya? Yah.. Begitulah.. Minim. Kita perlu perhatikan tanggal kadaluwarsanya, makin lama makin bagus. Karena menurut beberapa blog, kopi paling bagus dinikmati segera setelah digiling. Beruntung sekarang banyak produsen kopi menggunakan kemasan one way valve, sehingga kita bisa cium-cium dulu aroma kopinya. Cium dulu, baru beli.
   Masih belum puas dengan kualitas kopi yang kemarin-kemarin dibeli, saya akhirnya menyambangi Maharaja Coffee di jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta. Hasil baca-baca blog kopi. Wuah, di tempat ini banyak jenis kopi single origin dan blend. Tinggal pilih mau kemasan berapa gram. Juga ada harga khusus untuk kedai kopi. Saya coba beli eceran dulu ah, kemasan 200gram. Variatif, tergantung jenisnya robusta atau arabica. Mana lebih enak? Gak tahu ya. Saya beli 3 jenis dulu. Arabika Aceh Gayo, Arabika Toraja, dan Arabika Bali Kintamani. Dikasi juga bonus robusta Rakata 100gram tuh. Kopi mana yang paling enak? Wah, sulit juga memutuskan. Karena selain masalah selera, sayapun belum coba dan kulik semuanya. Ditulisan berikutnya saya akan beberkan pengalaman menyeduh kopi-kopi tersebut.


Lagi-lagi lewat tengah malam bung..
Selamat tidur